Adenovirus adalah virus berukuran sedang (berdiameter sekitar 90-100 nanometer). Komponen inti strukturnya sangat penting bagi para ilmuwan untuk memahami perilaku virus dan perannya dalam berbagai organisme. Adenovirus termasuk dalam famili Adenoviridae dan dikenal karena sifatnya yang unik, tidak berselubung, dan genom DNA untai ganda. Virus ini pertama kali diisolasi dari jaringan adenoid manusia pada tahun 1953 dan diketahui memiliki kisaran inang yang luas, yang mampu menginfeksi berbagai vertebrata termasuk manusia.
Struktur adenovirus terdiri dari DNA untai ganda linier yang terbungkus dalam cangkang ikosahedral, yang terdiri dari 240 protein heksapoda dan 12 pentad, dan setiap pentad terhubung ke Virus memiliki serat yang menonjol yang membantunya menempel pada permukaan sel inang.
Berbagai taksa dalam famili Adenoviridae meliputi Atadenovirus, Aviadenovirus, Ichtadenovirus, dan Mastadenovirus, yang terakhir meliputi semua adenovirus manusia. Hingga saat ini, 88 jenis adenovirus (HAdV) telah diidentifikasi pada manusia dan dibagi menjadi tujuh spesies (Human adenovirus A hingga G) berdasarkan genomnya. Berbagai jenis dikaitkan dengan berbagai penyakit, seperti masalah pernapasan, konjungtivitis, gastroenteritis, dan bahkan jenis obesitas tertentu.
Genom adenovirus berkisar antara 26 hingga 48 kilobase pair, yang secara teoritis memungkinkannya membawa 22 hingga 40 gen. Meskipun genom tersebut tampak besar dibandingkan dengan virus lain, adenovirus sebenarnya masih merupakan virus yang relatif sederhana yang bergantung pada alat dan sumber daya sel inang untuk bertahan hidup dan bereproduksi.
Struktur inti adenovirus sederhana namun efektif. Pada setiap ujung genomnya terdapat protein terminal seberat 55 kilodalton yang berfungsi sebagai primer dalam replikasi virus untuk memastikan replikasi genom yang efisien. Secara biologis, adenovirus memiliki cangkang protein ikosahedral, dan integritas serta stabilitas struktural memungkinkannya untuk menahan kerusakan oleh berbagai faktor kimia dan fisik.
Replikasi adenovirus relatif rumit tetapi sangat bergantung pada mesin seluler sel inang. Proses intraseluler dimulai dengan virus memasuki sel inang, yang biasanya melibatkan interaksi beberapa reseptor membran sel. Adenovirus terutama ditularkan melalui droplet pernapasan, feses, dan aerosol. Di dalam sel inang, virus pertama-tama menyuntikkan materi genetiknya dan kemudian bereproduksi sesuai dengan mekanisme transkripsi sel inang.
Setelah virus berhasil memasuki sel inang, DNA virus akan mengikat molekul histon dalam sel inang, sehingga memungkinkannya berinteraksi secara efektif dengan mesin transkripsi sel inang dan melakukan ekspresi protein serta produksi partikel virus berikutnya.
Epidemiologi adenovirus menunjukkan bahwa virus ini dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, mulai dari infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga penyakit multiorgan pada individu dengan gangguan kekebalan tubuh. Penelitian telah menunjukkan bahwa infeksi adenovirus umum dikaitkan dengan konjungtivitis, tonsilitis, infeksi telinga, dan mengi pada anak-anak. Selain itu, beberapa jenis adenovirus dapat menyebabkan gastroenteritis, dengan tipe 40 dan 41 yang paling menonjol.
Pengobatan adenovirus Saat ini belum ada obat antivirus yang terbukti, jadi pengobatan biasanya bersifat simtomatik. Pada saat yang sama, kebiasaan menjaga kebersihan yang baik merupakan langkah efektif untuk mencegah infeksi, termasuk sering mencuci tangan dan menghindari kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Meskipun militer AS memiliki vaksin untuk melawan beberapa jenis adenovirus, vaksin tersebut belum tersedia secara luas untuk masyarakat umum.
Adenovirus saat ini menunjukkan potensi dalam terapi gen dan pengembangan vaksin, digunakan sebagai vektor untuk mengarahkan pengobatan tertentu, seperti vaksin COVID-19 yang baru.
Seiring dengan semakin mendalamnya penelitian tentang adenovirus, pemahaman komunitas ilmiah tentang virus tersebut secara bertahap semakin mendalam. Namun, karena adenovirus dapat menyebabkan berbagai penyakit dalam berbagai kondisi, dapatkah kita menemukan pengobatan atau metode pencegahan yang efektif untuk memerangi berbagai tantangan yang ditimbulkan oleh virus ini dalam penelitian mendatang?