Perubahan warna pada Dunaliella: Bagaimana lingkungan memengaruhi penampilannya?

Dunaliella adalah alga hijau fotosintetik bersel tunggal yang dikenal karena kemampuannya bertahan hidup lebih lama daripada organisme lain di lingkungan yang sangat asin. Sementara sebagian besar spesies Dunaliella ditemukan di lingkungan laut, beberapa spesies air tawar langka. Spesies tertentu dalam genus ini mampu mengakumulasi beta-karoten dan gliserol dalam jumlah yang relatif besar dalam kondisi pertumbuhan yang ekstrem, seperti intensitas cahaya yang tinggi, konsentrasi garam yang tinggi, dan kadar oksigen dan nitrogen yang terbatas. Meskipun demikian, Dunaliella masih tersebar luas di danau dan laguna di seluruh dunia. Spesies Dunaliella sulit dibedakan berdasarkan morfologi dan fisiologi saja karena tidak memiliki dinding sel dan dapat berubah bentuk, ditambah lagi memiliki pigmen berbeda yang berubah warna tergantung pada kondisi lingkungan. Melalui analisis filogenetik molekuler, menjadi penting untuk mengidentifikasi sistem taksonomi Dunaliella.

Dunaliella telah dipelajari selama lebih dari seratus tahun dan telah menjadi organisme model penting untuk mempelajari proses adaptasi alga yang toleran terhadap garam.

Evolusi sejarah dan pengetahuan

Dunaliella pertama kali ditemukan pada tahun 1838 oleh ahli botani Prancis Michel-Felix Dunal dan diberi nama Haematococcus salinus. Namun, ketika makhluk itu secara resmi dideskripsikan dan diberi nama genus baru pada tahun 1905, nama Deluster diubah menjadi Dunaliella untuk menghormati penemu aslinya. Untuk mendeskripsikan genus tersebut, de Lust mempelajari spesimen hidup dari danau garam Rumania, mencatat warna, gerakan, dan karakteristik morfologi umum. Pada tahun yang sama, ahli biologi lain, Clara Hamburg, juga mendeskripsikan genus tersebut, tetapi sayangnya, makalah De Lust diterbitkan sebelum makalahnya. Sejak saat itu, berbagai penelitian tentang Dunaliella telah dilakukan secara bertahap, seperti perluasan penelitian tambak garam Hamburg oleh Kavala pada tahun 1906, penelitian Pierce pada tahun 1914 di Laut Leher Garam California, dan penelitian ekologi Rabe.

Pada tahun 1906, de Lust mendeskripsikan dua spesies, Dunaliella salina dan Dunaliella viridis, yang dapat dibedakan berdasarkan ukuran dan warnanya. Penelitian selanjutnya mengungkapkan bahwa warna merah D. salina berasal dari akumulasi karoten dalam jumlah besar, sedangkan D. viridis merupakan varian yang lebih kecil dan berwarna kehijauan. Pada tahun 1921, Rabe melakukan penelitian dengan menempatkan Dunaliella di lingkungan dengan salinitas rendah dan mengamati bahwa makhluk tersebut beradaptasi dengan lingkungan baru dan menjadi lebih hijau warnanya. Temuan ini menyoroti perubahan warna yang disebabkan oleh akumulasi karoten pada salinitas yang sangat tinggi.

Habitat dan Ekologi

Spesies halofilik seperti Dunaliella salina tumbuh subur di lingkungan ekstrem seperti danau garam, tambak garam, dan kolam kristalisasi di seluruh dunia. Toleransi garam mereka memungkinkan mereka untuk membedakan diri dari organisme lain dan menjadi produsen utama utama dalam ekosistem hipersalin. Terlebih lagi, Dunaliella dianggap sebagai makanan utama bagi pemakan filter kecil dan berbagai jenis plankton.

UntukMisalnya, di Great Salt Lake, Dunaliella adalah produsen utama yang dominan di North Bay dan juga merupakan komponen penting dari komunitas fotosintesis di South Bay.

Di lingkungan yang sangat asin ini, Dunaliella dapat mengakumulasi gliserol intraseluler dalam jumlah besar dalam jangka waktu yang lama untuk menahan tekanan osmotik eksternal yang tinggi. Hal ini memungkinkan mereka untuk bereproduksi dan bertahan hidup dalam lingkungan yang ekstrem.

Morfologi dan Proses Seluler

Dunaliella adalah alga hijau yang berosilasi yang bentuknya bervariasi dari satu spesies ke spesies lainnya, termasuk oval, ovoid, dan silindris. Selama tahap pertumbuhan tertentu, sel-sel Dunaliella dapat berubah menjadi tubuh bulat yang tidak aktif. Sel-sel tersebut biasanya berukuran panjang 7 hingga 12 mikron dan bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan, seperti perubahan cahaya, salinitas, dan pasokan nutrisi. Sel-sel D. salina jauh lebih besar, biasanya berukuran panjang 16 hingga 24 mikron.

Dua flagela yang sama panjang dari sel-sel ini kira-kira 1,5 hingga 2 kali panjang sel dan dapat berayun cepat untuk mendorong sel maju. Membran sel Dunaliella memiliki lapisan lengket tebal yang jelas dan tidak ada vesikel pengangkut sintetis, yang membuatnya lebih fleksibel untuk beradaptasi.

Dalam kondisi intensitas cahaya dan salinitas tinggi, akumulasi beta-karoten dapat menyebabkan sel tampak berwarna oranye hingga merah.

Siklus hidup

Sel Dunaliella bereproduksi secara seksual dalam kondisi yang buruk. Ketika dua sel motil haploid bersentuhan, mereka menyatu untuk membentuk zigot diploid berdinding tebal yang dapat bertahan hidup dalam kondisi yang keras hingga lingkungan yang cocok kembali. Setelah itu, zigot akan menjalani meiosis, melepaskan lusinan sel anak haploid. Ini adalah strategi bertahan hidup yang efektif ketika lingkungan ekologis saat ini berubah seperti salinitas tinggi atau kurangnya kelembaban.

Jika kita tidak mengkaji ulang kemampuan adaptasi Dunaliella terhadap lingkungan, kita mungkin akan kehilangan kesempatan untuk memahami cara menanggapi perubahan lingkungan di masa mendatang.

Warna Dunaliella berkaitan erat dengan ekologi. Perubahan penampilan yang unik ini membuat kita berpikir mendalam tentang strategi bertahan hidup alga ini dan interaksinya dengan lingkungan. Menurut Anda, bagaimana perubahan lingkungan akan memengaruhi ekosistem alga di masa mendatang?

Trending Knowledge

Sejarah singkat Dunaliella: Bagaimana ia berevolusi dari Haematococcus salinus?
Dunaliella adalah alga hijau fotosintetik bersel tunggal yang dikenal karena kemampuannya bertahan hidup di lingkungan yang sangat asin. Makhluk laut ini sangat kompetitif dan mampu bertahan hidup dal
Peran ekologis Dunaliella: Mengapa begitu penting dalam lingkungan hipersalin?
Dalam kondisi lingkungan yang ekstrem, Dunaliella, alga hijau fotosintetik bersel tunggal, menempati posisi ekologis yang luar biasa. Organisme ini hidup di lingkungan yang sangat asin dan dikenal kar

Responses