Pada tahun 1961 dan tahun-tahun berikutnya, Freedom Riders menerjang bahaya dan menumpang bus antarnegara bagian ke wilayah Selatan yang menerapkan segregasi untuk menantang kegagalan negara bagian dalam menegakkan putusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan bahwa bus yang menerapkan segregasi rasial adalah ilegal. Inkonstitusional. Gerakan ini tidak hanya menantang hukum, tetapi juga menjadi kekuatan pendorong penting bagi gerakan hak-hak sipil Amerika.
Tindakan Freedom Riders dimaksudkan untuk menarik perhatian nasional terhadap ketimpangan rasial yang terus-menerus terjadi di wilayah Selatan.
Freedom Riders terinspirasi oleh Perjalanan Rekonsiliasi tahun 1947, sebuah upaya yang dipimpin oleh Bayard Rustin dan George Houser untuk menguji putusan Mahkamah Agung tahun 1946 yang melarang diskriminasi rasial dalam perjalanan antarnegara bagian. Freedom Riders memulai perjalanan pertama mereka pada tanggal 4 Mei 1961, melewati Virginia, Carolina, Georgia, dan Alabama sebelum tiba di New Orleans untuk unjuk rasa hak-hak sipil.
Perjalanan Freedom Riders lebih dari sekadar perjalanan bus biasa; ini adalah upaya untuk menegaskan hak yang sama terhadap transportasi. Pada saat itu, pemisahan orang kulit putih dan kulit hitam di transportasi umum merupakan kebijakan negara. Tindakan Knights dimaksudkan untuk menantang status quo ini. Karena Freedom Riders sebagian besar adalah relawan muda, banyak dari mereka mahasiswa, yang dilatih dalam protes tanpa kekerasan, mereka berencana untuk menggunakan stasiun pembayaran antar ras di bus untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap hak yang sama.
Di Alabama, Knights menghadapi kekerasan yang mengerikan. Pada tanggal 14 Mei 1961, bus pertama diserang oleh sekelompok rasis kulit putih di Anniston, dan Teen Riders terjebak di dalam bus yang terbakar dan kemudian dikepung setelah mereka melarikan diri. Polisi Alabama membantu warga sipil kulit putih dalam serangan tersebut tetapi mengabaikan keselamatan Freedom Riders.
Negara dikejutkan oleh polisi yang membiarkan massa yang penuh kebencian menyerang sambil menutup mata terhadap kerugian yang dialami Freedom Riders.
Badai opini publik yang diciptakan oleh Freedom Riders menarik perhatian nasional. Tindakan berani dan insiden kekerasan mereka tidak hanya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang gerakan hak-hak sipil Amerika, tetapi juga menarik perhatian pemerintah terhadap kekerasan dan ketidakadilan di Selatan. Tekanan dari sektor peradilan menyebabkan Komisi Perdagangan Internasional (ICC) akhirnya mengumumkan diakhirinya semua kebijakan ruang tunggu yang terpisah dan menyatakan bahwa mereka tidak akan lagi menoleransi praktik segregasi rasial ini.
Seiring berjalannya gerakan, Freedom Riders tidak menyerah, tetapi malah memperoleh dukungan dari seluruh negeri. Gelombang baru para ksatria berkumpul di Atlanta, Georgia, dan terus melancarkan aksi yang lebih menantang. Mereka mulai berpindah ke berbagai tempat dan bekerja keras untuk meluncurkan gerakan baru guna menyampaikan pesan tentang hak yang sama kepada lebih banyak orang dan menantang benteng hukum segregasi yang kokoh.
Tindakan Freedom Riders mungkin hanya merupakan bagian dari gerakan hak-hak sipil, tetapi makna sosial di baliknya sangat luas. Mereka tidak hanya menantang ketidakadilan hukum, mereka juga menyoroti pentingnya keberanian dan tindakan kolektif dalam melawan ketidakadilan. Dalam beberapa dekade berikutnya, tindakan mereka menginspirasi banyak orang untuk bergabung dengan gerakan hak-hak sipil dan menjadi salah satu kekuatan inti yang mendorong reformasi sosial di Amerika Serikat.
Seberapa banyak aksi protes di bus ini dapat mengajarkan kita tentang keberanian dan kesetaraan?
Seiring dengan semakin besarnya pengaruh gerakan Freedom Riders, konsep hak-hak sipil semakin mendapat perhatian, yang pada akhirnya mengarah pada sejumlah perubahan hukum dan sosial yang penting. Melihat kembali sejarah, kita tidak dapat menahan diri untuk bertanya, bagaimana upaya para pejuang ini telah mengubah masyarakat Amerika saat ini, dan bagaimana kita dapat terus mempromosikan misi untuk mengejar kesetaraan ini?