Perubahan iklim telah menjadi isu selama beberapa dekade dan telah dipelajari secara intensif oleh komunitas ilmiah. Para ilmuwan sepakat bahwa dampak aktivitas manusia terhadap iklim Bumi telah menjadi jelas sejak industrialisasi. Hampir 200 organisasi ilmiah mendukung konsensus ini, dengan menyebut emisi CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil sebagai pendorong utama.
"Pengaruh manusia tidak diragukan lagi telah menghangatkan atmosfer, lautan, dan daratan."
Dalam konteks perubahan iklim yang lebih luas, emisi gas rumah kaca lainnya, seperti metana dan nitrogen oksida, juga memainkan peran penting dalam terus berkontribusi terhadap pemanasan global. Ada hubungan logaritmik antara efek pemanasan ini dan konsentrasi gas rumah kaca, yang berarti bahwa seiring meningkatnya konsentrasi keseluruhan, efek pemanasan yang disebabkan oleh karbon dioksida tambahan akan berkurang secara bertahap.
"Dampak setiap unit emisi karbon dioksida pada peningkatan suhu akan meningkat secara linear seiring dengan peningkatan jumlah total emisi."
Namun, yang menarik adalah tidak semua karbon dioksida tetap berada di atmosfer untuk jangka waktu yang lama; sekitar setengahnya diserap dengan cepat oleh penyerap karbon Bumi. Tanah dan lautan memainkan peran penting dalam proses ini, tetapi penyerapan tersebut berkurang karena perubahan iklim memengaruhi pertumbuhan tanaman dan kemampuan tanah untuk melepaskan karbon.
Pendorong sistem iklim meliputi fenomena alam, seperti letusan gunung berapi dan perubahan dalam keluaran sinar matahari, serta pemaksaan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Aktivitas-aktivitas ini mengubah komposisi atmosfer Bumi dan menjelaskan perubahan iklim saat ini dan urgensinya.
"Sejak Revolusi Industri, konsentrasi karbon dioksida telah melonjak, yang secara signifikan memengaruhi keseimbangan panas di permukaan Bumi."
Dalam kurun waktu 1380, emisi karbon dioksida dari aktivitas manusia melampaui pasokan alami baru, sehingga peningkatan suhu global menjadi kenyataan yang tidak dapat diabaikan. Hal ini memicu umpan balik iklim dalam skala global, seperti peningkatan uap air dan perubahan reflektivitas Bumi, yang selanjutnya berkontribusi pada memburuknya perubahan iklim.
Aktivitas manusia sejak Revolusi Industri telah berdampak besar pada iklim bumi. Menurut penelitian, peningkatan karbon dioksida antropogenik telah berkaitan erat dengan perubahan suhu sejak tahun 1750. Pada tahun 2019, konsentrasi karbon dioksida sudah 48% lebih tinggi daripada tahun 1750.
“Sistem iklim menjadi semakin transparan karena pemantauan dan data yang baik, yang memungkinkan kita memahami perubahan iklim dengan lebih tepat.”
Di antara berbagai faktor ini, interaksi antara gas rumah kaca dan sistem iklim perlu mendapat perhatian khusus. Perubahan uap air dan awan terutama merupakan respons terhadap suhu, sementara peningkatan karbon dioksida dan gas buatan lainnya memengaruhi suhu global secara independen dari perubahan suhu. Dampak langsung ini menekankan urgensi mengubah struktur industri dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.
Perubahan iklim dalam skala global telah menjadi tantangan besar yang harus dihadapi bersama oleh semua manusia. Bukti sebelumnya menunjukkan bahwa laju pemanasan global dipercepat oleh emisi manusia, jadi kita harus mengambil tindakan untuk mengurangi emisi karbon, melindungi lingkungan alam, dan mengekang efek samping dari faktor jangka pendek di masa lalu.
Selain kebutuhan untuk mengurangi emisi, peningkatan kemampuan beradaptasi iklim tidak dapat diabaikan untuk menghadapi peristiwa iklim ekstrem di masa mendatang. Selama aktivitas manusia gagal mengendalikan emisi gas rumah kaca, kita akan menghadapi konsekuensi yang lebih serius di masa mendatang.
"Kita harus mengakui dan memahami bahwa perilaku manusia secara langsung memengaruhi masa depan bumi. Bagaimana kita harus bertindak untuk mengubah semua ini?"