Archive | 2019

Ideologi Penerjemahan Pada Kata-kata Berkonsep Budaya dalam Novel Terjemahan The Kite Runner

 

Abstract


Di dalam penerjemahan, metode dan teknik penerjemahan yang tepat diperlukan ketika menerjemahkan kata-kata berkonsep budaya karena kata bermuatan budaya tidak bisa diterjemahakan secara literal. Artikel ini mencoba untuk menganalisis ideologi penerjemahan pada kata-kata berkonsep budaya pada novel The Kite Runner dengan menggunakan teori tentang kategori budaya dan metode penerjemahan Peter Newmark dan teori tentang teknik penerjemahan Molina dan Albir serta teori tentang ideologi penerjemahan Lawrence Venuti. Sumber data didapat dari novel The Kite Runner karya Khaled Hosseini dan terjemahannya oleh Berliani M. Nugrahani yang mengandung konsep budaya. Tulisan ini menggunakan pendekatan deskriptif komparatif. Data dianalisis dengan mengkategorikan istilah budaya, menganalisis metode, teknik, dan ideologi penerjemahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 157 data kategori budaya. Kategori budaya yang diusulkan Newmark dalam novel tersebut adalah ekologi, budaya material, budaya sosial, organisasi sosial, kebiasaan, dan budaya lainnya. Teknik penerjemahan yang digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan kata-kata berkonsep budaya dalam tersebut adalah: adaptasi, amplifikasi, peminjaman, kalke, kompensasi, deskripsi, kesepadanan lazim, generalisasi, terjemahan literal, dan partikularisasi sedangkan metode penerjemahan yang digunakan penerjemah adalah: kata per kata, literal, semantik, adaptasi, dan penerjemahan komunikatif. Penerjemah lebih banyak menggunakan ideologi domestikasi dalam menerjemahkan kosakata budaya tersebut.

Volume 2
Pages 23-31
DOI 10.22146/DB.V2I1.339
Language English
Journal None

Full Text