Archive | 2021

Aspek Psikologis Pasien Gagal Jantung

 
 

Abstract


Heart failure is a cardiovascular disorder with a high prevalence, morbidity and mortality. The prevalence of heart failure is predicted to increase to 46% in 2030 which is estimated to reach more than 8 million cases in people aged more than 18 years. The quality of life of patients with heart failure is indirectly affected by the condition of the damage to the anatomy and physiology of the heart. More over, it can also result in changes in the psychological condition due to the worsening of the disease. The quality of life is reflected in the limitation of mental and physical activity and decreased social role. The symptoms of the psychological disorder such as anxiety, anger, depression and hostility. Those both will influence each other so that the healing and recovery process of heart failure will be hampered, it can be worse, which in turn will increase re-hospitalization and death rates. The purpose of this literature review was to examine the impact of psychological aspect, especially depression and anxiety in patients with heart failure. The articles were searched through google search, such were BMJ, BMC Psychology, Heart Journal, JAMA and school or university journal. Those articles were published between 2000 – 2019, and selected through the keyword depression, heart failure, self care, then critically examined using CASP guidelines. Those articles should discuss (1) the relationship between psychological factor such as depression or anxiety on heart failure (2) tke mechanism of depression that affect heart faiure and (3) the influence of psychological factors on self care of heart failure patient. This study revealed that the prevalence of depression in heart failure is quite high, around 19-63%. The emergence of depression, anxiety and other psychological disorders are influenced by several factor such as age, gender, level of education, economic status and education about the disease. Patient’s perceptions about the disease are related to depression and anxiety cases of heart failure patients. The interaction between the physical response to heart failure and the neuron connections will cause psychological disorders in heart failure patients. Psychological factors are often forgotten by health workers so that patients feel more “alone” in dealing with heart failure. Depression, anxiety and other psychological disorder often occur in patients with heart failure. The prevalence is quite high around 19-63%. There are no theories and studies that explain precisely how this disorder can occur, but from the literature review it is suspected that this disorder occurs due to neuro-hormonal responses in the central and peripheral neural networks that are disturbed due to heart failure. Inverselly, psychological disorder can aggravate existing heart failure condition. These two things were interrelated and will affect the recovery process of heart failure. Although often forgotten, depression and other psychological disorders are strong predictors of self-care behavior and quality of life and re-hospitalization of heart failure patients. \nKeywords: depression; heart failure; self-care \nABSTRAK \n \nGagal jantung merupakan salah satu ganguan kardiovaskuler dengan prevalensi yang tinggi dan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi pula. Prevalensi gagal jantung diprediksi semakin meningkat hingga 46% pada tahun 2030, yang diperkirakan akan mencapai lebih dari 8 juta kasus pada penduduk berumur 18 tahun keatas. Penyakit ini dapat menurunkan produktifitas penderitanya, menurunkan kualitas hidup dan sering mengalami perawatan ulangan. Kualitas hidup pasien gagal jantung secara tidak langsung dipengaruhi oleh kondisi kerusakan anatomi dan fisiologi jantung. Selain itu juga dapat mengakibatkan perubahan kondisi psikologis akibat semaikn memburuknya kondisi penyakitnya. Kualitas hidup ini tercermin dengan adanya keterbatasan aktifitas fisik, mental dan penurunan peran sosial. Adapun gejala gangguan psikologis seperti cemas, marah, depresi dan rasa permusuhan. Kedua hal tersebut akan saling mempengaruhi sehingga akan mengakibatkan proses penyembuhan dan pemulihan gagal jantung menjadi terhambat, bahkan dapat semakin memburuk yang pada akhirnya akan meningkatkan angka rawat inap ulang dan angka kematian. Tujuan dari review literatur ini adalah untuk menelaah pengaruh aspek psikologis khususnya depresi dan ansietas pada pasien gagal jantung. Artikel dicari melalui google search, seperti BMJ, BMC Psychology, Heart Journal, JAMA dan jurnal sekolah atau universitas Kemudian dipilih artikel yang terbit antara tahun 2000 – 2019, melalui kata kunci gagal jantung, depresi, self care, kemudian dilakukan telaah kritis dengan menggunakan pedoman dari CASP. Artikel yang dimaksud harus membahas mengenai (1) hubungan antara faktor psikologis seperti depresi atau kecemasan terhadap gagal jantung, (2) mekanisme terjadinya depresi yang mempengaruhi gagal jantung dan (3) pengaruh faktor psikologis terhadap self care pasien gagal jantung. Dari penelitian ini terungkap bahwa prevalensi depresi pada gagal jantung cukup tinggi, sekitar 19 – 63%. Munculnya depresi, ansietas dan gangguan psikologis lainnya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia, gender, tingkat pendidikan, status ekonomi dan edukasi tentang penyakit. Interaksi antara respon fisik akibat gagal jantung dan koneksi neuron akan menyebabkan munculnya gangguan psikologis pada pasien gagal jantung. Persepsi pasien tentang penyakitnya juga berhubungan dengan kejadian depresi dan kecemasan pasien gagal jantung, Faktor psikologis sering terlupakan untuk diperhatikan oleh petugas kesehatan sehingga pasien semakin merasa “sendiri” dalam menghadapi penyakit gagal jantungnya. Kejadian depresi, ansietas dan gangguan psikologis lain sering terjadi pada pasien dengan gagal jantung. Prevalensinya cukup tinggi sekitar 19-63%. Gangguan ini bisa terjadi karena adanya respon neurohormonal pada jaringan saraf pusat dan tepi yang terganggu akibat gagal jantung. Sebaliknya, gangguan psikologis yang terjadi dapat memperberat kondisi gagal jantung yang telah ada. Kedua hal ini saling berkaitan dan akan mempengaruhi proses pemulihan gagal jantung. Meskipun sering terlupakan, depresi dan gangguan psikologis lain ini merupakan prediktor kuat terhadap perilaku self care, rawat inap ulang serta kualitas hidup pasien dengan gagal jantung. \nKata kunci: depresi; gagal jantung; self care

Volume 12
Pages 32-36
DOI 10.33846/SF12NK106
Language English
Journal None

Full Text