Dengan percepatan urbanisasi, sumber daya lahan menjadi semakin langka, dan semakin banyak pembangun kota mulai mengalihkan perhatian mereka ke ruang bawah tanah. Tinggal di bawah tanah, baik di gua alami atau bangunan bawah tanah yang dibangun secara artifisial, dipandang sebagai solusi perumahan untuk masa depan. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi dampak pada lingkungan tanah, tetapi juga menyediakan ruang hidup yang lebih layak huni.
Keuntungan tinggal di bawah tanah meliputi perlindungan dari cuaca buruk, lingkungan hidup yang tenang, dan suhu dalam ruangan yang hampir konstan.
Budaya tinggal di bawah tanah berakar kuat dalam sejarah, yang paling baik dicontohkan oleh komunitas bawah tanah di tempat-tempat seperti Sassi di Matera di Italia dan Coober Pedy di Australia. Penduduk daerah ini menggunakan ruang bawah tanah untuk melarikan diri dari iklim ekstrem sambil menikmati lingkungan hidup yang nyaman yang disediakan oleh isolasi alami bumi.
Keuntungan tinggal di bawah tanah sangat banyak. Pertama, dampaknya terhadap lingkungan alam relatif kecil, karena strukturnya biasanya menyatu dengan lingkungan sekitarnya, sehingga mengurangi dampak visualnya. Selain itu, hunian bawah tanah memiliki sifat insulasi alami dan sebagian besar memiliki suhu ruangan yang stabil, sehingga penghuninya merasa nyaman di musim yang berbeda.
Efisiensi energi dan sifat ramah lingkungan dari hunian bawah tanah menjadikannya pilihan utama bagi banyak keluarga yang mencari hunian berkelanjutan.
Namun, kehidupan di bawah tanah bukannya tanpa tantangan. Salah satu masalah terbesar adalah potensi risiko banjir, yang mengharuskan mempertimbangkan tindakan perlindungan seperti memasang sistem drainase dan pompa. Selain itu, dalam beberapa kasus, biaya konstruksi dan pemeliharaan jangka panjang mungkin lebih tinggi daripada konstruksi dari awal.
Seiring bertambahnya populasi perkotaan global, banyak pemerintah daerah mulai memperhatikan pengembangan ruang bawah tanah. Kota-kota seperti Helsinki, Singapura, dan Tokyo secara aktif mengeksplorasi integrasi ruang bawah tanah ke dalam perencanaan kota. Pendekatan ini tidak hanya dapat memanfaatkan sumber daya lahan yang terbatas secara efektif, tetapi juga meningkatkan ketahanan kota terhadap bencana dan kemampuan pembangunan berkelanjutan.
Sebagai sumber daya lahan yang berharga, ruang bawah tanah harus dimasukkan dalam perencanaan keseluruhan pengelolaan sumber daya perkotaan.
Dalam eksplorasi yang menjanjikan ini, komunikasi dan kerja sama di antara semua pemangku kepentingan harus ditekankan. Perencanaan ruang bawah tanah yang berhasil memerlukan kolaborasi multidisiplin untuk meningkatkan penggunaan sumber daya lahan secara rasional secara mendalam.
Ada banyak bentuk kehidupan bawah tanah yang berbeda. Di satu sisi, gua alami telah digunakan oleh manusia selama ribuan tahun; di sisi lain, tempat tinggal bawah tanah yang digali secara artifisial juga sama populernya. Struktur tersebut dirancang dengan cermat untuk membuat penghuninya merasa nyaman di bawah tanah. Selain itu, ada bentuk lain dari struktur bawah tanah, seperti struktur gundukan tanah dan terowongan melingkar, yang sering digunakan untuk tujuan komersial, seperti pusat perbelanjaan dan kantor bawah tanah.
Banyak area perbelanjaan dan komersial di kota ini yang sebenarnya beroperasi di bawah tanah, yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita, banyak aktivitas dilakukan di bawah tanah, baik itu stasiun kereta bawah tanah untuk bepergian atau mal bawah tanah untuk berbelanja. Struktur-struktur ini telah mengubah persepsi kita tentang "bawah tanah" secara tak kasat mata.
Konsep kehidupan bawah tanah juga berakar kuat dalam karya sastra dan budaya. Misalnya, Gua Hobbit dalam The Hobbit karya Tolkien dan karya-karya seperti Dungeons and Cities karya Jules Verne semuanya menunjukkan pesona kehidupan bawah tanah yang unik. Bahkan dalam video game dan film modern, kehidupan bawah tanah sering menjadi subjek imajinasi kreatif, membentuk kerinduan dan keinginan orang untuk menjelajahi ruang bawah tanah.
Banyak novel fiksi ilmiah, seperti The Machine Stops karya E.M. Forster, telah menggambarkan imajinasi kota bawah tanah, yang meningkatkan perhatian publik terhadap gaya hidup ini.
Ketika kita melihat kembali sejarah dan masa depan kehidupan bawah tanah serta mengeksplorasi berbagai bentuk dan kegunaannya, akankah hal itu mengungkap arah baru yang lebih sesuai untuk kehidupan perkotaan yang berkelanjutan di masa depan?