esona Tersembunyi dari Rencana Hak Pemegang Saham: Mengapa Perusahaan Memilih Pembelaan “Pil Racun”

Dalam dunia merger dan akuisisi perusahaan, rencana hak pemegang saham, yang umumnya dikenal sebagai "pil racun," adalah strategi defensif yang digunakan untuk melindungi perusahaan dari pengambilalihan yang tidak bersahabat. Tujuan utama dari rencana tersebut adalah untuk melindungi perusahaan dari ancaman pengakuisisi luar dengan membatasi hak pemegang saham untuk secara langsung menegosiasikan harga jual saham mereka. Sejak "pil racun" pertama kali diusulkan pada awal tahun 1980-an, fleksibilitas dan efektivitasnya telah memicu diskusi luas di kalangan investor dan manajemen perusahaan.

Pil racun dirancang untuk mencegah pengambilalihan yang tidak diinginkan dengan memberikan hak preemptive kepada pemegang saham yang ada, sehingga meningkatkan biaya bagi pengakuisisi.

Dengan strategi ini, ketika kepemilikan saham pemegang saham mencapai ambang batas tertentu (biasanya 20%), pemegang saham lain dapat membeli lebih banyak saham perusahaan dengan harga diskon. Dengan cara ini, rasio kepemilikan saham pengakuisisi sangat terdilusi, sehingga meningkatkan biaya akuisisi dan mempersulit pelaksanaan akuisisi. Hal ini akan memaksa pengakuisisi untuk bernegosiasi dengan dewan direksi perusahaan guna mencari kemungkinan penarikan rencana tersebut.

Sejarah Pil Racun

Istilah "pil racun" pertama kali dicetuskan oleh pengacara merger dan akuisisi Martin Lipton pada tahun 1982 sebagai respons terhadap gelombang pengambilalihan yang tidak bersahabat. Pil racun memperoleh popularitas pada awal tahun 1980-an seiring meningkatnya aktivitas perampok perusahaan seperti T. Bohn Pickens dan Carl Icahn. Namanya berasal dari pil racun yang digunakan dalam spionase untuk mencegah penangkapan, dan melambangkan perlindungan diri yang ekstrem saat menghadapi ancaman.

Meskipun banyak perusahaan telah mengadopsi pil racun, penelitian menunjukkan bahwa hanya 20% perusahaan yang berhasil mempertahankan diri dari pengambilalihan yang tidak bersahabat, sementara 80% perusahaan menerima tawaran pengambilalihan.

Jenis-jenis Pil Racun

Saat ini, banyak perusahaan yang terdaftar menggunakan berbagai jenis pil racun untuk menahan pengambilalihan, terutama jenis-jenis berikut:

  • Rencana Saham Preferen: Tujuannya adalah untuk menerbitkan sejumlah besar saham preferen, yang akan ditebus secara paksa ketika pengambilalihan yang tidak bersahabat terjadi, yang secara instan mengencerkan kepemilikan saham pengakuisisi di perusahaan tersebut.
  • Rencana Rollover: Memungkinkan pemegang saham selain pengakuisisi untuk membeli saham tambahan dengan harga diskon.
  • Rencana Pembalikan: Pemegang saham dapat membeli saham pengakuisisi dengan harga diskon setelah penggabungan.

Tujuan dari rencana ini adalah untuk mempersulit penawar yang tidak bersahabat untuk berhasil mengakuisisi perusahaan, dengan demikian melindungi independensi perusahaan dan kepentingan manajemen.

Legalitas dan Tantangan Pil Racun

Legalitas pil racun agak kontroversial ketika pertama kali digunakan pada tahun 1980-an, namun, Mahkamah Agung Delaware memutuskan pada tahun 1985 bahwa pil racun merupakan alat pertahanan hukum. Namun, pil racun dipandang sangat berbeda dalam kerangka hukum berbagai negara. Beberapa negara, seperti Inggris, sama sekali tidak mengizinkannya, sementara Kanada mengizinkannya tetapi dengan klausul "yang dapat dibatalkan".

Reaksi pasar terhadap pil racun

Bagi pemegang saham, potensi manfaat pil racun mungkin relatif terbatas. Seiring perubahan pasar, semakin banyak pemegang saham mulai menentang penggunaannya, karena akuisisi sering kali merupakan keuntungan finansial yang besar bagi pemegang saham. Namun, analis percaya bahwa penggunaan pil racun dapat memberi pemegang saham premi pengambilalihan yang lebih tinggi dalam beberapa kasus.

Rencana hak pemegang saham dapat memberikan daya ungkit negosiasi tambahan, yang pada gilirannya dapat tercermin dalam premi akuisisi yang lebih tinggi.

Selama pandemi global pada tahun 2020, banyak perusahaan sekali lagi mencari tindakan pencegahan untuk mencegah peluang akuisisi. Jelas, munculnya tindakan pencegahan ini bukanlah suatu kebetulan, tetapi strategi yang tak terelakkan yang diperlukan untuk menghadapi lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat.

Kesimpulan

Seiring dengan perubahan tata kelola perusahaan dan risiko pasar, masih harus dilihat apakah perusahaan akan terus mengadopsi strategi pencegahan untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Dapatkah strategi ini benar-benar melayani stabilitas jangka panjang dan pertumbuhan nilai pasar perusahaan, atau apakah itu hanya memberikan perlindungan bagi manajemen?

Trending Knowledge

Perang Pengambilalihan Perusahaan pada Tahun 1980-an: Bagaimana Pil Racun Menyelamatkan Perusahaan dari Pengambilalihan
Pada tahun 1980-an, perusahaan-perusahaan Amerika mengalami perang pengambilalihan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menghadapi persaingan yang ketat dan ancaman akuisisi dari musuh-musuh yang kua
Bagaimana cara mencegah pengambilalihan paksa dengan menerbitkan saham preferen? Ungkap operasi rahasia pil racun!
Dari perspektif bisnis, pengambilalihan paksa merupakan ancaman besar bagi perusahaan. Salah satu alat untuk melawan pengambilalihan paksa tersebut adalah rencana "pil racun", yang secara efektif dapa

Responses