Seiring dengan semakin ketatnya persaingan pasar, perusahaan harus terus meningkatkan fitur produk mereka untuk beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan yang terus berubah. Quality by Design (QbD), sebagai konsep desain produk yang sedang berkembang, telah banyak digunakan tidak hanya di industri manufaktur, terutama di industri farmasi dan otomotif, tetapi juga secara bertahap menjadi alat penting bagi perusahaan untuk mengoptimalkan produk mereka. Popularitas metodologi ini memungkinkan perusahaan untuk menciptakan produk yang mengejutkan pelanggan dengan cara yang lebih sistematis dan efisien.
Ide inti dari desain kualitas adalah bahwa perusahaan harus mulai dari kebutuhan pelanggan dan membangun kualitas ke dalam proses desain produk, daripada melakukan kontrol kualitas setelah produk selesai.
Desain kualitas menekankan pada klarifikasi tujuan di tahap awal pengembangan produk dan merancang fungsi dan fitur produk di sekitar kebutuhan pelanggan. Tahapan utama dari proses ini meliputi:
Pendekatan desain yang berpusat pada pelanggan ini dapat membantu perusahaan meramalkan dan memecahkan potensi masalah fungsi produk, sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan secara keseluruhan.
Perusahaan harus selalu memperhatikan perubahan ekspektasi pelanggan saat merancang kualitas. Dalam kebanyakan kasus, kebutuhan pelanggan yang berbeda mungkin saling bertentangan. Misalnya, beberapa pelanggan mungkin lebih menyukai harga yang lebih rendah, sementara yang lain lebih menekankan pada fitur dan kinerja yang lebih baik.
Hal ini mengharuskan perusahaan untuk menetapkan mekanisme trade-off yang jelas saat merancang produk untuk menemukan solusi desain terbaik sehingga semua aspek permintaan dapat dipenuhi secara wajar.
Desain untuk kualitas juga melibatkan pertimbangan kontrol variasi. Perusahaan harus menggunakan data historis dan hasil pengujian untuk memahami dan memprediksi variasi dan selanjutnya menghilangkan efek buruk yang mungkin ditimbulkan oleh variasi ini. Dengan mengendalikan variasi proses, perusahaan dapat memastikan stabilitas dan konsistensi produk, yang sangat penting bagi pelanggan.
Ambil contoh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA). Mereka telah memasukkan prinsip kualitas berdasarkan desain ke dalam proses pengembangan obat. FDA menekankan bahwa kualitas harus ditetapkan pada tahap awal desain produk daripada melalui kontrol pasca-kualitas. Hal ini memungkinkan perusahaan farmasi untuk lebih memahami proses pembuatan produk mereka dan risikonya.
Penerapan desain mutu telah mendorong perkembangan inovatif industri farmasi dan meningkatkan keamanan serta efektivitas produk, sehingga produk tersebut menjadi lebih kompetitif.
Seiring dengan semakin beragamnya permintaan pasar, perusahaan harus terus meningkatkan metode desain mereka. Desain mutu bukan sekadar teknologi statis, tetapi sistem yang terus berkembang secara dinamis. Perusahaan harus mengandalkan analisis data dan penyesuaian pasar untuk merancang dan meningkatkan produk masa depan. Hanya melalui pembelajaran dan adaptasi berkelanjutan, perusahaan dapat memperoleh posisi yang tak terkalahkan di pasar.
Situasi ekonomi masa depan akan menuntut lebih banyak perusahaan untuk memastikan daya saing produk mereka melalui desain mutu dan secara efektif menanggapi perubahan permintaan pelanggan.
Desain mutu telah berhasil diterapkan di banyak industri dan telah membawa manfaat yang cukup besar bagi perusahaan. Di masa depan, dalam mengejar optimalisasi fungsi produk dan memenuhi kebutuhan pelanggan, bagaimana perusahaan dapat menggunakan konsep ini untuk membuat produk mereka lebih kompetitif di pasar?